“Tradisi Mane’e merupakan hubungan timbal balik antara manusia dengan alam. Bila manusia senantiasa menjaga alam secara timbale balik alampun akan memberikan bagiannya kepada manusia”

Sumber: Firmanto Hanggoro

Perayaan kolosal Festival Mane’e atau prosesi pemanggilan ikan laut secara tradisional milik masyarakat adat Talaud membawa Saya berkunjung ke Pulau Intata-Kakorotan, Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. 

Perjalanan jauh dan panjang menuju pulau terluar di ujung utara Indonesia ini menyajikan sejumlah pengalaman menarik yang akan sangat disayangkan sekali jika terlewatkan.

Mane’e merupakan tradisi menangkap ikan yang telah lama dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud diantara bulan Mei dan Juni bertepatan dengan bulan purnama atau awal bulan mati menurut almanak mereka.Upacara Tradisional ini tetap dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi sejak abad ke-16 pasca terjadinya gempa bumi dan badai gelombang besar yang melanda kepulauan ini yang menyebabkan sejumlah daratan tenggelam dan banyak harta kekayaan penduduk musnah.

Tradisi menangkap ikan secara berjamaah itu merupakan perayaan atas berakhirnya masa eha. Eha adalah masa pelarangan untuk mengambil hasil laut (ikan) dan darat (buah-buahan, sayur-mayur, binatang ternak) selama tiga sampai enam bulan setiap tahunnya. Selama masa Eha itu, tak seorang warga pun yang boleh mengambil sumber daya alam di darat maupun laut dalam zona tertentu di wilayah Pulau Intata dan Kakorotan.

Perjalanan pun dimulai !

Sumber:
Firmanto Hanggoro

Pagi-pagi benar perjalanan ke lokasi Festival Mane’e di Pulau Intata-Kakorotan dilakukan. Dengan menggunakan perahu ketingting bercadik dibantu tenaga motor berkekuatan 12 PK pelayaran kelokasi acara terasa menyenangkan. Langit begitu cerah. Lautan sangatlah teduh membiru. Tidak ada ombak tinggi yang bisa mengombang-ambingkan perahu. Seperti sudah digariskan, semuanya berjalan lancar.

Dari kejauhan Pulau Intata-Kakorotaan tampak dipandangan. Menurut literatur sejarah, sebenarnya kedua pulau ini pada zaman dahulunya adalah sebuah kesatuan. Pada tahun 1600-an terjadilah sebuah gempa besar disusul ombak tsunami yang kemudian menghilangkan sebagian besar sisi pulau. Ribuan warganya menjadi korban terhempas hilang diterjang air laut.

Perlahan tapi pasti perahu yang saya tumpangi mendekati lokasi festival. Keramaian sudah terlihat jelas ditepian pantai. Dari arah laut pun rombongan warga yang tinggal dipulau lain terlihat berbondong-bondong menaiki kapal nelayan, mereka begitu antusias ingin terlibat langsung memeriahkan acara. Lebih kurang dua ribuan orang dari sejumlah pulau-pulau disekitar meramaikan festival tahunan paling megah se-Kabupaten Kepulauan Talaud ini.

Setelah perahu merapat, segeralah Saya berlari menuju lokasi acara dan bergabung dengan para peserta festival lainnya. Merasakan atmosfir suasananya dan tidak lupa mengambil foto sebanyak mungkin sebagai dokumentasi penting dari sebuah peristiwa yang disakralkan.

Festival Mane’e , Cara Kuno Memanggil Ikan

Sumber:
Firmanto Hanggoro

Sepanjang ratusan meter janur daun kelapa dipintal-pilin, disambung-sambung serupa tali yang yang saling terhubung. Ratusan orang berjajar baris bahu-membahu menariki jalinan janur tersebut untuk dinaikkan keatas perahu yang kemudian akan mereka bawa ke tengah lautan.

Tampak terlihat berjalan mondar mandir seseorang yang paling dituakan di Pulau Intana-Kakorotan atau biasa disebut Ratumbanua. Dari gerakan yang ada pada bibirnya dapat dipastikan sedang mengucapkan mantra sembari memegani sebuah ujung janur yang sebagian sudah berada di kerapu karna dinaikkan oleh para warga

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Pulau Intata-Kakorotan ada sejumlah tahapan yang harus dilakukan dan beberapa larangan yang harus dipatuhi sebelum Mane’e diselenggarakan. Tahapan-tahapan itu terdiri dari Sembilan aturan antara lain pertama Maraca Pundangi (Memotong Tali Hutan), Mangolom Par’ra (Permohonan Kepada Tuhan), Mattuda Tampa Pane’can (Menuju Lokasi Acara), Mamabi’u Sammi (Membuat Alat Tangkap Dari Janur Kelapa Yang Dilingkarkan Pada Tali Hutan), Mamoto’u Sammi (Menebar Janur), Mamole Sammi (Menarik Janur Kedarat), Manganu Ina (Mengambil Hasil Tangkapan/ Ikan), Matahia Ina (Membagi Hasil) dan Manarm’Ma Alama (Ucapan SyukurLewat Makan Bersama Hasil Tangkapan).

Sedangkan sejumlah larangan yang harus dipatuhi saat pelaksanaan Mane’e antara lain, Setiap pengunjung dilarang masuk lokasi objek wisata Mane’e tanpa seizin pemimpin adat dan pemerintah desa, Pengunjung dilarang menggunakan pakaian warna merah, Sementara proses Mane’e berlangsung dilarang mengadakan keributan bunyi-bunyian dalam bentuk apapun, Dilarang menangkap ikan sebelum Ratumbanua melakukannya, Dilarang menangkap ikan dan membawa hasil tangkapan sebelum dikumpul dan dibagi-bagi oleh pentua-pentua adat, Dilarang merusak semua saran di lokasi Mane’e, siapa pun yang melanggar akan dikenakan sanksi adat.

Mane’e bukan hanya sebuah prosesi kuno menangkap ikan. Lebih dalam lagi, aktivitas itu merupakan budaya asli dari sebuah kearifan lokal yang dipegang teguh suatu masyarakatnya secara turun-temurun. Dimana dijaman lampau itu masyarakat Intata-Kakorotan sangat sulit mendapatkan bahan pangan pokok seperti beras dan sagu. Mereka hanya mengandalkan ikan sebagai makanan dikesehariannya. Demi bertahan dari kondisi kesulitan pangan itu maka dibuatlah suatu lokasi larangan menangkap ikan dibulan-bulan tertentu dimana lokasi-lokasi itu mereka jadikan sebagai “lumbung” memanen ikan. Tidak ada satu pun warga yang diperbolehkan menangkap ikan ditempat-tempat yang telah ditentukan tanpa mendapat perintah langsung dari Ratumbanua sebagai pemangku ketertiban masyarakat adat.

“Yang perlu kita lihat disini bukanlah sekedar perayaan dari sebuah festival, lebih dari itu aktifitas ini menampilkan suatu budaya dari sebuah kearifan lokal. Dimana sejak jaman dahulu ketika masarakatnya hanya bergantung kepada ikan sebagai sebuah kebutuhan pokok, sehingga mereka membuat suatu larangan penangkapan ikan secara sembarangan,” ujar Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Talaud, Jeti Pulu.

Sumber:
Firmanto Hanggoro

Jeti mengungkapkan Festival Mane’e ini juga dijadikan sebagai hari pencanangan kawasan konservasi yang mana hal itu ditandai dengan penanaman terumbu karang, “Yang ada akan kita pelihara sehingga akan menambah ikan-ikan datang dan menetap,” singkatnya.

Pernyataan itu pun dikuatkan Bupati Kepulauan Talaud Constantine Ganggali pada waktu itu yang mengatakan Mane’e sebagai dukungan Pemkab Kepulauan Talaud terhadap Program pemerintah sebagai pencanangan konservasi di gugusan Pulau Intata dan Kakorotan.

“Kalau itu sudah menjadi program nasional berarti kita mulai dari memberikan kesempatan kepada tokoh adat maupun pemerintah desa untuk dapat membuat suatu keputusan supaya disekitar wilayah ini jadi suatu kawasan dilindungi. Tidak boleh ada penangkapan ikan yang memang benar-benar harus kita lindungi,” tegasnya.

Lebih lanjut Bupati mengungkapkan, budaya Mane’e bagaikan sebuah lumbung bibit ikan bagi masyarakat dalam mengumpulkan ikan sebanyak mungkin yang nantinya akan mereka gunakan juga dalam memenuhi kebutuhan makan masyarakatnya sehari-hari.

“Diseputaran ini ikan-ikan dipelihara. Kemudian saat ikan-ikan ini membesar dia akan keluar. Dan area untuk penangkapan sebenarnya bukanlah diarea sini tetapi para nelayan harus keluar. Sehingga budi daya ikan yang ada disini akan menjadi satu lagi aset budaya, dimana selain Mane’e kita juga akan memanfaatkan keindahan laut untuk melihat warna-warni ikan yang ada dan warna-warni dari terumbu karang,” jelasnya panjang lebar.

Proses adatnya dimulai dengan pelarangan, kemudian melakukan permohonan doa kepada Tuhan, semua laki-laki yang kuat mengambil tali hutan yang dililit didaun kelapa sebagai alat menangkap ikan. Ketika janur tersebut ditarik-tarik maka ikan-ikan itu menurut mengikuti arah tarikan jaring yang kemudian diarahkan ke lokasi Ranne. Di Ranne itu semua masyarakat berkumpul di lokasi.Kemudian doa-doa dilantunkan, setelah itu penangkapan ikan akan dilakukan oleh orang yg dihormati.

Usai semua janur terkumpul diatas perahu, segeralah mereka berlayar. Membawa muatan rangkaian daun kelapa itu yang kemudian diarah bentangkan membentuk setengah lingkaran berdiameter lebih dari satu kilo panjangnya ditengah laut.

Aktifitas itu berlangsung hingga air laut ditepian pantai susut menyurut. Setelah bebatuan karang mulai bermunculan kepermukaan secara taktis Ratumbanua memerintahkan warganya untuk perlahan menarik kedua ujung janur kelapa yang membentang itu secara perlahan menuju karang. Para warga terlihat serentak bergerak menaati perintah sang tetua, masing-masing dari mereka membawa tombak pendek taupun parang ditangannya.

Air laut yang terlihat menyurut itu tiba-tiba bergejolak. Rupanya ribuan ikan sudah masuk kedalam perangkap. Pergerakannya membentuk riakan dan gelombang dipermukaan. Macam-macam jenis ikan bisa terlihat jelas disana. Mulai dari ikan kecil seperti ikan layar hingga ikan Bawal, Barongan, Kakap Merah, Marlin Putih, Todak bahkan ikan pemangsa seperti Hiu kecil mencoba keluar dari perangkap janur kelapa. Sungguh sebuah pertunjukan alam yang mengesankan.

Melihat ribuan ikan sudah terperangkap diantara bentangan janur kelapa dan bebatuan karang, wajah dari para warga terlihat makin bersemangat. Namun mereka tetap bersabar menunggu titah agung dari sang Ratumbanua tentang kapan waktu yang tepat melakukan penangkapan.

Ratumbanua sebagai tetua kampung menitahkan kepada Bupati sebagai orang yang dihormati untuk melakukan penangkapan ikan yang pertama. Usai dilakukan penangkapan ikan yang pertama dengan serentak tanpa lagi diperintah ratusan warga yang sudah tidak kuat menahan sabar sedari tadi itu serta merta langsung menyerbu ribuan ikan yang sudah terperangkap.

Teriakan riuh rendah bercampur tawa dari para warga yang bersuka ria membuat suasana begitu ramai. Ikan-ikan yang seolah berenang-renang kebingungan itu tidak berdaya menghadapi serbuan dari ratusan tombak, parang dan jaring dari tangan mereka. Tidak hanya orang dewasa yang menceburkan dirinya kelaut, anak-anak dan remaja pun tidak ingin ketinggalan mendapati tangkapannya. Inilah Mane’e dimana hari itu warga dapat memanen ikan sepuas hati tanpa harus pergi jauh melaut.

Banyak wisatawan yang melihat prosesi ini terpesona sehingga sempat membuat gaduh. Akibatnya, tetua adat terpaksa harus menenangkan mereka. Menurut warga setempat, jika pengunjung ribut ikan-ikan dapat kembali lepas ke laut bebas.

Perayaan lokal tradisi Mane’e tidak hanya mendapat perhatian dari warga setempat maupun masyarakat dari pulau-pulau sekitarnya saja. Festival ini pun menarik wisatawan untuk mendatangi lokasi acara tersebut demi menonton langsung pertunjukan asli dari adat istiadat masyarakat setempat.

“Prosesi seperti ini hanya bisa ditemukan di kakarotan dimana berbagai jenis ikan dipanggil dengan cara-cara tradisional dengan menggunakan janur daun kelapa,” ujar Ika Yuli dari Komunitas Sarjana Menddidik di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM3T).

Bersama sejumlah kawan-kawannya dari Surabaya, dirinya mengungkapkan begitu antusias mengikuti prosesi Mane’e dari awal hingga berakhir, “Sangat menarik, luar biasa tidak menyangka didaerah terpencil seperti Kakaroutan ada peristiwa seperti ini,” ujarnya terkesima.

Begitu juga yang dialami Johanes Pilyay warga Pulau Miangas, dirinya mengungkapkan baru melihat secara langsung prosesi adat-isitiadat yang telah berumur ratusan tahun itu.

“Meski kelahiran asli kawasan Talaud ini tapi saya besar di Jakarta dan baru kali ini dapat menyaksikan langsung prosesi menangkap ikan yang menabjubkan ini,” katanya senang.

Sesuai dengan tahapan yang telah ditentukan, usai memanen ikan hasil tangkapan, diadakanlah acara syukuran dengan memakan ikan-ikan yang tadi itu secara  bersama-sama, berkumpul dan berbincang tentang apa saja. Menari dan bernyanyi sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan telah diberikan rezeki yang berlimpah-ruah.

Warga Pulau Intata percaya, tradisi mane`e merupakan hubungan timbal balik antara manusia dengan alam. Bila manusia senantiasa menjaga alam secara timbal balik alam pun akan memberikan bagiannya kepada manusia. Sungguh sebuah pengalaman yang menarik bisa menyaksikan langsung Festival Mane’e di Pulau Intata-Kakorotan. Namun waktu jualah yang harus memisahkan perjumpaan. Berat rasanya meninggalkan suatu tempat dimana berjuta keindahan alamnya begitu eksotis memukau pandangan. Hanya saja sarana akomodasi dan transportasi menuju ketempat ini harus mendapat perhatian khusus sehingga para wisatawan yang ingin berkunjung tidak terlalu bersusah payah menjangkaunya. Paling tidak dengan tersedianya transportasi langsung dari Melonguane ke Pulau Intata-Kakorotan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang akan mencumbu alamnya.