Dieng merupakan daerah pegunungan yang kaya akan objek wisata alam maupun bentang-bentang pegunungan yang tampak dramatis. Selain itu, terdapat telaga-telaga nan eksotis dan banyak dikunjungi wisatawan.

Dieng mempunyai desa yang dinobatkan sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa yaitu Desa Sembungan. Desa ini berada di ketinggian di atas 2000 mdpl. Di desa inilah Telaga Cebong berada.

Asal Muasal Julukan Telaga Cebong

Penduduk setempat menyebut telaga ini Telaga Cebong Dieng. Sebab, wujud dari telaga tersebut mirip dengan anakan katak (cebong). Berada di kaki Bukit Sikunir yang terkenal dengan Golden Sunrise Sikunir. Tepi dari Telaga Cebong digunakan sebagai area parkir maupun tempat orang-orang menyeruput wedang hangat sebelum mendaki Bukit Sikunir.

Landscape Telaga Cebong Dieng

Landscape Telaga Cebong Dieng pasti terlihat menawan bila dilihat dari Puncak Bukit Sikunir. Sesudah para wisatawan menghabiskan waktu fajar menyaksikan indahnya Golden Sunrise Sikunir pastilah akan langsung bergegas ke titik objek yang berbeda. Dengan demikian, mampu memandang indahnya Telaga Cebong Dieng.

Telaga Cebong di Malam Hari

Bila hendak menikmati dinginnya malam Dieng, tidak sedikit para wisatawan memanfaatkan tepi Telaga Cebong untuk mengadakan acara camping. Telaga Cebong Dieng telah menjadi nadi kehidupan di Desa Sembungan merupakan desa tertinggi di pulau Jawa. Air Telaga Cebong mengalir ke hilir. Kemudian, membentuk Air Terjun Sikarim yang tepat berada di bawah Desa Sembungan Dieng.

Air Telaga Cebong di pagi hari acap kali tampak berkilau seperti minyak bila disaksikan dari jalan menuju Gunung Sikunir. Hal ini juga menjadi momen terbaik untuk diabadikan oleh para pengunjung.

Bila ingin berkemah di tepi Telaga Cebong, tidak perlu bersusah payah membawa tenda dari rumah. Sebab, warga setempat banyak yang menyediakan jasa sewa tenda, sekaligus menyediakan kayu bakar untuk kegiatan api unggun. Jadi, segala sesuatunya telah tersedia, wisatawan tinggal menikmati suasana malam yang sungguh-sungguh mengesankan.

Menurut penuturan penduduk setempat, terdapat sebuah cerita yang dipercaya warga Desa Sembungan. Dahulu, terdapat sebuah proses pembuatan telaga. Berawal dari sebuah perlombaan dari seorang bapak sakti yang mempunyai dua anak laki-laki. Dari perlombaan tersebut, kemudian menjadi ajang kompetisi antara kakak beradik untuk mengadu kesaktian masing-masing. Ternyata di Sembungan ada dua telaga. Namun, kebenaran cerita ini susah dilacak. Moral cerita ini bisa dijadikan sebagai bahan pemikiran tentang persaingan, kekeluargaan, konstruksi bangunan, cara mencapai sebuah tujuan dan lain sebagainya.